Kuncoropr’s Network

Kita terlahir di dunia untuk kabaikan bagi lingkungan

Penelitian Ilmiah Remaja

Posted by kuncoropr pada Februari 21, 2008

PEDOMAN PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

SIFAT DAN ISI TULISAN

Sifat dan isi tulisan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Kreatif dan Objektif

a. Tulisan berisi gagasan kreatif yang merupakan hasil pemikiran secara terbuka

b. Tulisan didukung oleh data dan informasi yang terpercaya

c. Bersifat asli(bukan karya jiplakan dan menjauhi duplikasi

2. Logis dan Sistematis

a. Tiap langkah penulisan dirancang secara sistematis dan runtut

b. Pada dasarnya karya tulis memuat unsur-unsur identifikasi masalah, analisis permasalahan, kesimpulan dan memuat saran-saran atau rekomendasi

PENULISAN KARYA ILMIAH

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:

I. Bagian Awal

1. Cover

2. Halaman Judul.

a. Judul diketik dengan huruf besar sesuai dengan masalah dan tidak membuka peluang untuk penafsiran yang bermacam-macam.

b. Nama penulis ditulis dengan jelas

3. Lembar Pengesahan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan

4. Kata pengantar dari penulis

5. Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti Daftar Pustaka,Daftar Tabel dan Lampiran

6. Abstrak/Ringkasan

II. Bagian Inti

1. Pendahuluan

Bagian pendahuluan mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Latar belakang yang memuat alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis dan penjelasan tentang penting dan menariknya masalah tersebut ditulis

b. Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan

c. Mengandung pertanyaan yang dijawab melalui tulisan

d. Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan

2. Tinjauan Pustaka

a. Tinjauan pustaka meliputi uraian-uraian dan penjelasan yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang akan dikaji

b. Uraian mengenai pendapat yang berkaitan dengan masalah yang akan dikaji

c. Uraian mengenai pemecahan masalah yang pernah dilakukan

3. Metode Penulisan

Metode penulisan dilakukan mengikuti metode yang benar dengan menguraikan secara cermat cara atau prosedur pengumpulan data dan informasi, analisis permasalahan, pengambilan kesimpulan, serta perumusan saran atau rekomendasi,

4. Bagian Isi/Pembahasan

a. Analisis permasalahan didasarkan pada data atau informasi, serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternatif pemecahan masalah atau gagasan kreatif

b. Kesimpulan yang diambil harus konsisten

c. Saran yang disampaikan berupa gagasan yang berkaitan dengan kesimpulan

5. Bagian Akhir

a. Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga pembaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan. Penulisan daftar pustaka untuk buku, dimulai dengan menulis nama pengarang,tahun penerbitan,judul buku,nama penerbit dan tempat terbit. Penulisan daftar pustaka dari jurnal dimulai dari nama penulis,tahun,judul penulisan,nama jurnal,volume,dan nomor halama. Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat website-nya dan tanggal pengutipan.

b. Daftar riwayat hidup peserta minimal mencakup nama lengakap, tempat tanggal lahir, karya tulis yang pernah dibuat dan prestasi yang pernah diraih.

c. Lampiran (jika diperlukan)

PERSYARATAN PENULISAN

Naskah karyanya menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk,tsb,yg,dgn,dll,sbb.

PENGETIKAN

1. Tata Letak

a. Karya tulis diketik 1.5 spasi pada kertas berukuran A4( font 12, Times New Roman).

b. Batas pegetikan

1. Samping kiri 4 cm

2. Samping kanan 3 cm

3. Batas atas dan batas bawah masing-masing 3 cm

c. Jarak pengetikan Bab, Sub-bab dan perinciannya:

1. Jarak pengetikan antara Bab,Sub-bab adalah 3 spasi, sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi

2. Judul Bab diketik di tengah-tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 3 cm dari tepi atas tanpa garis bawah

3. Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan tendensi 5(lima) ketukan dan diberi garis bawah

4. Jika masih ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti aturan diatas lalu diikuti oleh kalimat berikutnya

2. Pengetikan Kalimat

Alinea baru diketik sebaris dengan baris diatasnya dengan jarak 2 (dua) spasi

3. Penomoran Halaman

a. Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar kelompok, kata pengantar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah ( i, ii, dan seterusnya)

b. Bagian inti sampai dengan bagian penutup memakai angka Arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 dari tepi atas (1,2,3, dan seterusnya)

c. Nomor halaman pertama dari setiap bab tidak ditulis tetapi diperhitungkan.


PEDOMAN DESAIN POSTER

PERSYARATAN TEKNIS

a. Poster digambar pada kertas berukuran A3, tanpa batas tepi

b. Desain poster menggunakan cetak digital dengan menggunakan komputer aplikasi atau software yang sudah umum (Corel Draw, Photoshop, atau kombinasi aplikasi yang lain) dapat juga menampilkan foto, grafik.

c. Tidak diperkenankan terdapat tempelan-tempelan kertas/sejenisnya

d. Jumlah warna bebas

e. Menyerahkan Soft File berikut Hard Copy (Hasil Poster)

f. Poster harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

· Visible : Mudah dilihat

· Interesting : Menarik

· Structured : Terstruktur

· Useful : Berguna, informative

· Accurate : Teliti

· Legitimate : Mengikuti Persyaratan

· Simple : Sederhana

    1. Format Poster

Poster yang dibuat harus memuat :

· Judul, nama penulis

· Isi Poster memuat alur pikir yang jelas, yaitu latar belakang, permasalahan, tujuan, hasil temuan, kesimpulan/saran.

· Tonjolkan bagian-bagian yang dianggap paling penting untuk diinformasikan (misal hasil, temuan, saran)

Posted in 1 | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Semen dari Sampah

Posted by kuncoropr pada Februari 2, 2008

Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe yang dibuat diatas lapisan sampah, lalu menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di jepang, kini jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.

Ekosemen

Diawali penelitian di tahun 1992, dengan dibiayai oleh Development Bank of Japan, para peneliti Jepang telah meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah, endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1998, setelah melalui proses uji kelayakan akhirnya pabrik pertama didunia yang mengubah sampah menjadi semen didirikan di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen 110.000 ton per tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62.000 ton per tahun, endapan air kotor dan residu pembakaran yang diolah mencapai 28.000 ton per tahun. Hingga saat ini sudah dua pabrik di Jepang yang memproduksi ekosemen.

 

Gambar 1. Simulasi pembuatan eko semen dari limbah rumah tangga


Pembuatan ekosemen

Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton per tahun tersebut yang dibakar menjadi abu sekitar 37 ton per tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa dalam pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu ini bisa berfungsi sebagai pengganti clay yang digunakan pada pembuatan semen biasa.

Namun CaO yang terkandung pada abu hasil pembakaran sampah dinilai masih belum mencukupi, sehingga limestone (batu kapur) sebagai sumber CaO masih dibutuhkan sekitar 52 persen dari keseluruhan. Sedangkan pada semen biasa, limestone yg dibutuhkan mencapai 78 persen dari keseluruhan.

Proses selanjutnya adalah abu hasil pembakaran sampah (39 persen), limestone (52 persen), endapan air kotor (8 persen) dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam rotary klin untuk kemudian dibakar. Untuk mencegah terbentuknya dioksin, pada proses pembakaran di rotary klin, dilakukan pada 1400 derajat celcius lebih dimana pada suhu tersebut dioksin terurai secara aman.

 

Gambar 2. Rotary klin (Sumber : http://www.ichiharaeco.co.jp)

Kemudian gas hasil pembakaran pada rotary klin didinginkan secara cepat untuk mencegah proses pembentukan dioksin ulang. Sehingga hasil gas buangan tidaklah berbahaya bagi manusia. Sedangkan pada hasil pembakaran yang masih mengandung senyawa logam dipisahkan, untuk kemudian dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain.
Hasil akhir dari proses ini adalah ekosemen.

Pengaruh plastik vinil

Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses pembakaran akan mengakibat kekuatan konkrit ekosemen akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas Cl2 hasil peruraian plastik vinil yang dapat mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.

Kualitas ekosemen

Berdasarkan hasil pengujian JSA (Japan Standar Association) dinyatakan bahwa ekosemen mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan semen biasa. Sehingga, hingga saat ini penggunaan ekosemen sudah digunakan dalam pembangunan jembatan, jalan, rumah, dan bangunan lainnya di Jepang.

 

Gambar 3. Struktur ekosemen (Sumber : http://www.ichiharaeco.co.jp)


Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah alternatif pengolahan sampah menjadi barang bermanfaat bagi manusia yang telah membuangnya. Selain itu dengan adanya alternatif pengolahan sampah menjadi semen, biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Bila sebelumnya 40.000 yen per ton (pengolahan sampah konvensional) menjadi 39.000 yen per ton (pengolahan sampah hingga menjadi semen).

Peluang di Indonesia

Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan, tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.

Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya perkembangannya masih jalan ditempat.

Berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen, tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan oleh warganya mencapai 6000 ton lebih per hari. Selain itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak pemerintah penanganan sampah bisa sedikit teratasi dan dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan limestone (26 persen).

Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak industri bisa lebih ekonomis.

Dedy Eka Priyanto, Tokyo National College of Technology. Email: dedy_monbusho05@yahoo.co.jp

Posted in 1 | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Halo dunia!

Posted by kuncoropr pada Februari 2, 2008

Selamat Datang di Kuncoropr’s Network. Sebagai wahana diskusi-informasi-komunikasi ilmiah, relijius dan seni

Silahkan bergabung dengan kami !

Posted in 1 | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.